Jaman
boleh terus bergulir, namun tidak demikian dengan pola dan gaya hidup
Suku Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Desa
yang berjarak sekitar 7 Km arah barat dari pusat Kota Banyuwangi itu,
masih menjaga adat istiadat warisan leluhur mereka. Tak heran jika
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sekitar tahun 1995 menetapkan desa yang
berpenghuni 2663 jiwa tersebut sebagai Desa Wisata Adat.
Banyak
adat Using yang masih lestari dan dipertahankan warga yang sebagian
besar hidup dari bercocok tanam ini. Seperti bangunan rumah masih
beraksitektur Gebyug, rumah adat Using yang memeliki ciri khas serta
mempunyai filosofi kehidupan dalam berumah tangga.
Kecuali itu, pola bertani tradisonal seperti menggunakan baling-baling kayu untuk mengusir hama masih dilakukan.
Upacara
perkawinan masih menggunakan tatanan adat yang diturunkan secara turun
temurun, semisal upacara lamaran manten dan kirab keliling kampung yang
saat ini sudah jarang ditemui dikawasan Kota Banyuwangi.
Tak
ketinggalan menariknya,warga setempat memiliki beberapa acara adat yang
diselenggarakan rutin tiap tahun, semisal Tumpeng Sewu atau biasa
disebut warga 'Selamatan Bersih Desa' yang dilaksanakan pada hari Senin
atau Hari Jumat awal di Bulan Haji.
"Insya Allah acara bersih
desa tahun ini akan kami selanggarakan pada 1 Desember mendatang," tutur
Pak Timbul, sesepuh Desa Kemiren saat ditemui detiksurabaya.com, Rabu
(15/10/2008) pagi.
Selain memegang teguh adat istiadat dalam
kesehariannya, warga Desa Kemiren yang kesemuanya mayoritas beragama
Islam ini juga patuh pada ajaran agamanya.
Hubungan sosial antar
warga terjalin secara kuat. "Jika ada hajatan tetangga,kami semua
berduyun-duyun urun rembug materi atau sekedar tenaga," terang Pak
Timbul lagi.
Sifat warga yang cenderung terbuka, ramah membuat
nyaman siapa saja yang berkunjung atau bahkan menginap ke Desa Kemiren
ini. Tak kurang dari puluhan wisatawan tiap bulannya berkunjung untuk
belajar kearifan tradisional Suku asli Banyuwangi ini.
"Jika ingin berkunjung pintu rumah kami terbuka lebar bagi siapa saja," jelas Anak Agung Tahrim, Kepala Desa Kemiren.
Banyak
sanggar-sanggar seni yang menjadi tempat belajar bagi tiap wisatawan,
tak perlu bingung tempat untuk berteduh. Sebab lanjut Tahrim sebab
hampir semua warga secara suka rela akan mempersilahkan pengunjung untuk
tinggal di rumahnya.
Bahkan menginap untuk jangka waktu yang
cukup lama, seminggu atau bahkan sebulan. "cukup bantu kami uang belanja
mas," lanjutnya.
Kentalnya Budaya dan Adat di Desa Kemiren
semakin lengkap dengan balutan suasana Desa yang masih Asri dengan
banyaknya pepohonan yang tumbuh .
Sungai-sungai masih mengalir
dengan kejernihan air asli pegunungan membelah areal persawahan yang
mengelilingi Desa. Jalan Desa pun sudah beraspal meski tidak semulus
jalan di pusat Kota.
Ditengah desa terdapat Anjungan Wisata
seluas 1800 M2 yang awal pendiriannya sebagai pusat ajang kegiatan
kesenian khas Using seperti Tari Gandrung maupun Barong. Anjungan itu
kini menjadi tempat rekreasi konvensional dengan dua kolam renang yang
menjadi andalannya.
Untuk terus menjaga kelestarian warisan nenek
moyangnya, Pemerintah Desa menerbitkan Peraturan Desa atau Perdes
tentang pelestarian Adat yang sifatnya hanya mengatur. Termasuk
keberadaan Kelompok Sadar Wisata (PokDarWis) yang akan melayani dengan
ramah kedatangan para wisatawan.
Meski begitu bagi warga Suku
Using di Desa Kemiren adat istiadat adalah pustaka leluhur yang harus
tetap dijaga dan dilestarikan sebagai penghormatan pada nenek moyangnya.
Mereka percaya jika adat istiadatnya diabaikan maka desa mereka
terancam marabahaya. (gik/gik) |