Sebanyak 46 guru-guru SMP dan SMA RSBI yang saat ini sedang tugas
belajar menjadi mahasiswa pasca sarjana di Universitas Negeri Malang
melalui program Tweening untuk semester 3 menempuh mata kuliah di
Nanjing University Agricultural (NJAU). Kami sempat diundang oleh
Kedubes Indonesia untuk RRT dan Mongolia, Imron Cotan di Hotel Lakeview
Xuanwu pada 11 Juli 2012 lalu. Pertemuan yang difasilitasi oleh Permid
(Persatuan Mahasiswa Indonesia) yang diketuai oleh Anggrid Surya dimulai
pukul 14.00 sampai jam 16.30 waktu setempat.
Dalam temu wicara tersebut, Anggrid menyampaikan bahwa ada kurang
lebih 200 mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh pendidikan di
China. Sebagian besar di Nanjing. Nanjing merupakan salah satu kota
pelajar di negara China. Jika di Indonesia seperti di Jogjakarta.
Saat itu, hadir pula atase pendidikan Hairul Anwar, yang menyambut
dengan suka cita. Baru kali pertama sejak bertugas di China dua tahun
lalu, ada mahasiswa Indonesia dengan jumlah rombongan terbanyak
berkunjung.
Imron Cotan mengungkapkan, dalam beberapa dekade ini kerjasama
Indonesia dengan China, terutama di bidang pendidikan dan tekhnologi
sangat luar biasa. China sangat membuka diri untuk memberikan peluang
bagi berbagai negara untuk memberikan beasiswa sampai dengan tahun 2020
nanti. Harapannya, kesempatan ini dimanfaatkan oleh para guru yang sejak
bulan Juni sampai September mendatang menempuh pendidikan di NJAU,
kembali ke Indonesia dengan membawa berbagai informasi yang berkaitan
dengan kemajuan ilmu dan tehnologi yang sedang berkembang di Negeri
Tirai Bambu. Salah satu yang ingin dikembangkan di Indonesia, menurut
Imron Cotan, bagaimana mengolah batubara muda menjadi minyak sintesis.
Di Indonesia, pemanfaatannya hanya sebagai bagian dari pengaspalan
jalan. Sedangkan di China dimanfaatkan sebagai bahan bahan bakar
kendaraan bermotor. Untuk itu, ada beberapa langkah yang sudah
dilakukan. Salah satunya dengan menempatkan mahasiswa Indonesia untuk
belajar di bidang tersebut.
Masih menurut Cotan, dalam bidang pendidikan, negara China mempunyai
empat prinsip sebagai negara yang unggul. Prinsip pertama adalah rajin
bekerja. Mereka bisa bekerja sampai 20 jam. Kedua, rajin menabung. Dalam
keseharian, banyak anak muda yang bekerja paruh waktu. Uang hasil
bekerja ditabung untuk bekal ketika nanti harus kuliah dan menikah.
Sampai dengan tahun ini, cadangan devisa negara China sebesar Rp 3,5
triliun.
Filosofi yang mereka pakai adalah “Kalau ingin kaya, bangunlah
jalan” dan “Service good and people is easy”. Karena hal itu akan
memperlancar seluruh proses kegiatan masyarakat, terutama perekonomian.
Bayangkan saja, kecepatan kereta api antara 300 sampai dengan 400
Km/jam. Sehingga waktu untuk menuju ke suatu tempat sangat singkat serta
cepat pula menjalankan bisnis.
Ketiga, orang-orang negara China sangat inovatif. Mereka menerapkan
“reversed engeneering”. Dengan update teknologi, mereka mampu
melaksanakan riset terbalik dari barang yang sudah ada, akan dibongkar
dan dllihat komponennya. Jika dalam bahasa lain, jika hari ini ada
keluaran barang terbaru dari sebuah negara, maka besok pagi sudah ada
KW1-nya.
Yang keempat adalah disiplin tinggi. Bagaimana anak-anak di sekolah
dasar diberikan berbagai inovasi tehnologi dengan kreativitas yang
memaksimalkan daya imajinasi peserta didik. Jika anak-anak mereka harus
melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, maka ia harus
menempuh ujian nasional yang disebut “gao-kao”, yang juga sekaligus
dijadikan sebagai penentuan harga diri keluarga. Jika ujian tersebut
tidak lulus, maka masa depan si anak secara otomatis akan suram. Skor
dalam ujian negara akan menentukan kualitas sekolah yang bagaimana yang
akan dijalani. Hal ini sudah berlaku sekitar 5000 tahun lalu.
Toleransi antarmanusia sangat tinggi diterapkan di negara ini. Pemerintah mendirikan pusat-pusat keagamaan. Salah satunya adalah masjid. Serta menjaga pula cagar budaya dari berbagai aliran kebudayaan dan agama yang ada di China beribu tahun lalu.
Toleransi antarmanusia sangat tinggi diterapkan di negara ini. Pemerintah mendirikan pusat-pusat keagamaan. Salah satunya adalah masjid. Serta menjaga pula cagar budaya dari berbagai aliran kebudayaan dan agama yang ada di China beribu tahun lalu.
Fasilitas umum menyediakan tempat khusus bagi orang tua, seperti
toilet. Untuk orang tua disediakan kursi khusus. Kereta api dan bus, ada
kursi berwarna orange. Bahkan di masjid pun, ruangan yang sama
disediakan kursi panjang untuk 3 sampai 4 orang dalam jumlah genap.
Kursi ganjil untuk duduk dan kursi genap untuk sajadah.
Usai pertemuan, kami diajak membuktikan kebenaran ajaran Konghucu
yang menganut dua hal. Pertama, menjaga hubungan harmonis antaranak
manusia. Kedua, menjaga hubungan manusia dengan lingkungan benar-benar
diterapkan. Sama halnya dengan habluminannas dan habluminalloh. Kami
diajak berkeliling ke sebuah danau yang sangat luas, yang merupakan
salah satu peninggalan kaisar Cheng Ho. Pengunjung digratiskan untuk
mengunjungi tempat tersebut. Banyak sekali pengunjung yang datang,
terutama anak-anak dan remaja dengan orang tuanya, yang memberikan
penjelasan tentang sejarah danau tersebut.
Tentunya, roda perekonomian tetap berjalan. Pengunjung dimanjakan dengan bisa menaiki perahu kuno yang sudah difasilitasi dengan mesin motor. Kemudian masih ada fasilitas, seperti odong-odong di Indonesia, yang bisa dinaiki 10 orang untuk berkeliling menikmati pemandangan.
Tentunya, roda perekonomian tetap berjalan. Pengunjung dimanjakan dengan bisa menaiki perahu kuno yang sudah difasilitasi dengan mesin motor. Kemudian masih ada fasilitas, seperti odong-odong di Indonesia, yang bisa dinaiki 10 orang untuk berkeliling menikmati pemandangan.
Kami juga diberi kesempatan berkunjung ke Fujimiao, sebuah kota tua
dengan bangunan yang tak banyak diubah keasliannya. Kota tersebut juga
dikemas sebagai kota pariwisata dan tempat belanja yang sangat
mengasyikkan. Karena barang-barang disana sangat murah harganya.
Perjalanan dilanjutkan ke Memorial Hall. Letaknya juga di Nanjing. Di
tempat itu pada tahun 1900-an pernah terjadi pembantaian orang-orang
China oleh tentara Jepang. Sebanyak 20 persen korbannya adalah muslim.
Jumlahnya kurang lebih 30 ribu nyawa.
Memorial Hall memiliki teknologi dan penataan artistik yang unik. Ada
berbagai barang bukti berupa barang-barang yang ditemukan, foto, video,
serta kesaksian orang-orang yang masih diberi kesempatan hidup.
Beberapa bangunan tetap dibiarkan sesuai aslinya. Lahan seluas kurang
lebih 4 hektare tersebut, bisa seharian kami kelilingi.
Selama perjalanan kami tak menemukan penduduk China menggunakan
sepeda motor. Yang ada hanya mobil dan sepeda yang dikayuh biasa atau
sudah menggunakan listrik. Betapa hal itu merupakan penghematan yang
luar biasa. Hanya orang-orang dengan kekayaan tertentu saja, yang
diizinkan memiliki kendaraan yang menggunakan bahan bakar bensin. Orang
lebih banyak memilih menggunakan bus umum dan kereta api yang
fasilitasnya sangat memadai.
Dari berbagai peristiwa, penjelasan serta lakon yang diceritakan oleh Imron Cotan, selayaknya bisa diakomodasi dan diapresiasi. Teknologi tak akan berkembang tanpa ada budaya dan tradisi masa lalu. Maka jangan lupakan budaya, sejarah dan tradisi masa lalu. Nah, masihkah kita terus berkutat pada “rebutan kekuasaan” dan hura-hura? Serta melupakan tugas utama sebagai “pengabdi agama, bangsa, dan negara?” Apapun status kita!
Dari berbagai peristiwa, penjelasan serta lakon yang diceritakan oleh Imron Cotan, selayaknya bisa diakomodasi dan diapresiasi. Teknologi tak akan berkembang tanpa ada budaya dan tradisi masa lalu. Maka jangan lupakan budaya, sejarah dan tradisi masa lalu. Nah, masihkah kita terus berkutat pada “rebutan kekuasaan” dan hura-hura? Serta melupakan tugas utama sebagai “pengabdi agama, bangsa, dan negara?” Apapun status kita!
*) Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang asal Banyuwangi.
Ditulis oleh Yeti Chotimah


woah keren ,,mau juga dong ke negeri tirai bambu..
BalasHapus