Belajar Dari Negeri Tirai Bambu

Selasa, 14 Agustus 2012

Sebanyak 46 guru-guru SMP dan SMA RSBI yang saat ini sedang tugas belajar menjadi mahasiswa pasca sarjana di Universitas Negeri Malang melalui program Tweening untuk semester 3 menempuh mata kuliah di Nanjing University Agricultural (NJAU). Kami sempat diundang oleh Kedubes Indonesia  untuk RRT dan Mongolia, Imron Cotan di Hotel Lakeview Xuanwu pada 11 Juli 2012 lalu. Pertemuan yang difasilitasi oleh Permid (Persatuan Mahasiswa Indonesia) yang diketuai oleh Anggrid Surya dimulai pukul 14.00 sampai jam 16.30 waktu setempat.
Dalam temu wicara tersebut, Anggrid menyampaikan bahwa ada kurang lebih 200 mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh pendidikan di China. Sebagian besar di Nanjing. Nanjing merupakan salah satu kota pelajar di negara China. Jika di Indonesia seperti di Jogjakarta.
Saat itu, hadir pula atase pendidikan Hairul Anwar, yang menyambut dengan suka cita. Baru kali pertama sejak bertugas di China dua tahun lalu, ada mahasiswa Indonesia dengan jumlah rombongan terbanyak berkunjung.
Imron Cotan mengungkapkan, dalam beberapa dekade ini kerjasama Indonesia dengan China, terutama di bidang pendidikan dan tekhnologi sangat luar biasa. China sangat membuka diri untuk memberikan peluang bagi berbagai negara untuk memberikan beasiswa sampai dengan tahun 2020 nanti. Harapannya, kesempatan ini dimanfaatkan oleh para guru yang sejak bulan Juni sampai September mendatang menempuh pendidikan di NJAU, kembali ke Indonesia dengan membawa berbagai informasi yang berkaitan dengan kemajuan ilmu dan tehnologi yang sedang berkembang di Negeri Tirai Bambu. Salah satu yang ingin dikembangkan di Indonesia, menurut Imron Cotan, bagaimana mengolah batubara muda menjadi minyak sintesis. Di Indonesia, pemanfaatannya hanya sebagai bagian dari pengaspalan jalan. Sedangkan di China dimanfaatkan sebagai bahan bahan bakar kendaraan bermotor. Untuk itu, ada beberapa langkah yang sudah dilakukan. Salah satunya dengan menempatkan mahasiswa Indonesia untuk belajar di bidang tersebut.
Masih menurut Cotan, dalam bidang pendidikan, negara China mempunyai empat prinsip sebagai negara yang unggul. Prinsip pertama adalah rajin bekerja. Mereka bisa bekerja sampai 20 jam. Kedua, rajin menabung. Dalam keseharian, banyak anak muda yang bekerja paruh waktu. Uang hasil bekerja ditabung untuk bekal ketika nanti harus kuliah dan menikah. Sampai dengan tahun ini, cadangan devisa negara China sebesar Rp 3,5 triliun.
Filosofi yang mereka pakai adalah “Kalau ingin kaya, bangunlah jalan”  dan “Service good and people is easy”. Karena hal itu akan memperlancar seluruh proses kegiatan masyarakat, terutama perekonomian. Bayangkan saja, kecepatan kereta api antara 300 sampai dengan 400 Km/jam. Sehingga waktu untuk menuju ke suatu tempat sangat singkat serta cepat pula menjalankan bisnis.
Ketiga, orang-orang negara China sangat inovatif. Mereka menerapkan “reversed engeneering”. Dengan update teknologi, mereka mampu melaksanakan riset terbalik dari barang yang sudah ada, akan dibongkar dan dllihat komponennya. Jika dalam bahasa lain, jika hari ini ada keluaran barang terbaru dari sebuah negara, maka besok pagi sudah ada KW1-nya.
Yang keempat adalah disiplin tinggi. Bagaimana anak-anak di sekolah dasar diberikan berbagai inovasi tehnologi dengan kreativitas yang memaksimalkan daya imajinasi peserta didik. Jika anak-anak mereka harus melanjutkan  sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, maka ia harus menempuh ujian nasional yang disebut  “gao-kao”, yang juga sekaligus dijadikan sebagai penentuan harga diri keluarga. Jika ujian tersebut tidak lulus, maka masa depan si anak secara otomatis akan suram. Skor dalam ujian negara akan menentukan kualitas sekolah yang bagaimana yang akan dijalani. Hal ini sudah berlaku sekitar 5000 tahun lalu.
Toleransi antarmanusia sangat tinggi diterapkan di negara ini. Pemerintah mendirikan pusat-pusat keagamaan. Salah satunya adalah masjid. Serta menjaga pula cagar budaya dari berbagai aliran kebudayaan dan agama yang ada di China beribu tahun lalu.
Fasilitas umum menyediakan tempat khusus bagi orang tua, seperti toilet. Untuk orang tua disediakan kursi khusus. Kereta api dan bus, ada kursi berwarna orange. Bahkan di  masjid pun, ruangan yang sama disediakan kursi panjang untuk 3 sampai 4 orang dalam jumlah genap. Kursi ganjil untuk duduk dan kursi genap untuk sajadah.
Usai pertemuan, kami diajak membuktikan kebenaran ajaran Konghucu yang menganut dua hal. Pertama, menjaga hubungan harmonis antaranak manusia. Kedua, menjaga hubungan manusia dengan lingkungan benar-benar diterapkan. Sama halnya dengan habluminannas dan habluminalloh. Kami diajak berkeliling ke sebuah danau yang sangat luas, yang merupakan salah satu peninggalan kaisar Cheng Ho. Pengunjung digratiskan untuk mengunjungi tempat tersebut. Banyak sekali pengunjung yang datang, terutama anak-anak dan remaja dengan orang tuanya, yang memberikan penjelasan tentang sejarah danau tersebut.
Tentunya, roda perekonomian tetap berjalan. Pengunjung dimanjakan dengan bisa menaiki perahu kuno yang sudah difasilitasi dengan mesin motor. Kemudian masih ada fasilitas, seperti odong-odong di Indonesia, yang bisa dinaiki 10 orang untuk berkeliling menikmati pemandangan.
Kami juga diberi kesempatan berkunjung ke Fujimiao, sebuah kota tua dengan bangunan yang tak banyak diubah keasliannya. Kota tersebut juga dikemas sebagai kota pariwisata dan tempat belanja yang sangat mengasyikkan. Karena barang-barang disana sangat murah harganya. Perjalanan dilanjutkan ke Memorial Hall. Letaknya juga di Nanjing. Di tempat itu pada tahun 1900-an pernah terjadi pembantaian orang-orang China oleh tentara Jepang. Sebanyak 20 persen korbannya adalah muslim. Jumlahnya kurang lebih 30 ribu nyawa.
Memorial Hall memiliki teknologi dan penataan artistik yang unik. Ada berbagai barang bukti berupa barang-barang yang ditemukan, foto, video, serta kesaksian orang-orang yang masih diberi kesempatan hidup. Beberapa bangunan tetap dibiarkan sesuai aslinya. Lahan seluas kurang lebih 4 hektare tersebut,  bisa seharian kami kelilingi.
Selama perjalanan kami tak menemukan penduduk China menggunakan sepeda motor. Yang ada hanya mobil dan sepeda yang dikayuh biasa atau sudah menggunakan listrik. Betapa hal itu merupakan penghematan yang luar biasa. Hanya orang-orang dengan kekayaan tertentu saja, yang diizinkan memiliki kendaraan yang menggunakan bahan bakar bensin. Orang lebih banyak memilih menggunakan bus umum dan kereta api yang fasilitasnya sangat memadai.
Dari berbagai peristiwa, penjelasan serta lakon yang diceritakan oleh Imron Cotan, selayaknya bisa diakomodasi dan diapresiasi. Teknologi tak akan berkembang tanpa ada budaya dan tradisi masa lalu. Maka jangan lupakan budaya, sejarah dan tradisi masa lalu. Nah, masihkah kita terus berkutat pada “rebutan kekuasaan” dan hura-hura? Serta melupakan tugas utama sebagai “pengabdi agama, bangsa, dan negara?” Apapun status kita!
*) Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang asal Banyuwangi.

Ditulis oleh Yeti Chotimah

One Response to “Belajar Dari Negeri Tirai Bambu”

Diberdayakan oleh Blogger.